HOME
HEADLINE NEWS :
 
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin

Definisi Ejaan Dalam Bahasa Indonesia

2 komentar

Definisi Ejaan Dalam Bahasa Indonesia - Salam Nusantara - pada kesempatan kali ini saya akan memposting artikel masih salam konteks Berbahasa Indoensia yang benar, pasti kalau membahas ber Bahasa Indoensia yang benar kita harus mengucap ejaan yang benar dan tidak rancu atau menggunakan ejaan yang telah disempurnakan, oke sobat supa kita berbahsa yang benar mari kita pelajari dasarnya yaitu ejaan. Sebelum merancang aktiviti ejaan kita perlulah mendalami terlebih dahulu makna asas ejaan sebelum kita membuat satu peranggkaan terhadap sesuatu aktiviti. Tujuannya bagi mencapai sesautu objektif pengajaran.

Ejaan tidak hanya berkaitan dengan cara mengeja suatu kata, tapi juga berkaitan dengan cara mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar, misalnya kata, kelompok kata atau kalimat. Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Ia merupakan ketentuan yang mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar berikut penggunaan tanda bacanya.  Terdapat beberapa definisi tentang ejaan berikut di bawah adalah contoh-contoh ejaan. :

Kemahiran mengeja perkataan berkait rapat dengan kemahiran membaca perkataan. Hasil kajian yang lepas telah menunjukkan bahawa proses kognitif yang mendasari kedua-dua kemahiran membaca perkataan dan kemahiran mengeja adalah hampir sama (Fitzgerald & Stanahan, 2000).

Ejaan adalah proses memilih serta mengadunkan lambang-lambang untuk melahirkan perkataan secara lisan dan bertulis. Sebahagian daripada kanak-kanak mahir mengeja tanpa bantuan guru. Ini adalah kerana kemahiran itu boleh diperolehi melalui kemahiran membaca. Tetapi ada juga kanak-kanak yang boleh membaca tetapi lemah dalam ejaan. (Jabatan Pendidikan Khas KPM).

Ejaan dan rencana adalah dua kemahiran yang saling berkaitan. Kemahiran ejaan dan tencana diperolehi melakui kemahiran membaca sama ada secara mekanis ataupun penaakulan. Perkataan yang dipilih untuk pembelajaran ejaan boleh diambil daripada buku teks, buku kerja, kad ejaan, lembaran kerja dan yang berkaitan dengan kemahiran bacaan dan kefahaman. Aktiviti ejaan dan rencana ini dapat membantu kanak-kanak meningkatkan dan menghafalkan bunyi perkataan. Di samping kemahiran mengaitkan bunyi perkataan dengan perkataan lain juga mengukuhkan kemahiran membaca. (Kaedah P1 BM Raminah Hj Sabran, Rahim Syam).

Defnisi Dari wikipedia yaitu :
Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat, dsb) dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandardisasikan dan mempunyai makna. Ejaan biasanya memiliki tiga aspek yaitu
Aspek Fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad
Aspek Morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis
Aspek Sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca.


Write : Jago Copy
Selengkapnya

Minggu

Sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

0 komentar

Sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Halo Jagocopyer pada sehat semuakan..? kalau pada sehat saya akan membahas lagi pembahasan Bahasa Indonosi yang berjudul Sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan..! yang disempurnakan...??? anda benar, Ejaan bahasa indonesia mempunyai banya ejaan yang telah tidak digunakan lagi karena telah disempurnakan dengan Ejaan yang benar, ingat ga sama isi proklamasi yang Asli..? coba cari ya.! ada yang bedakan ejaannya. hehe lansung aja ke pembahasan.
Ejaan tidak hanya berkaitan dengan cara mengeja suatu kata, tapi juga berkaitan dengan cara mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar, misalnya kata, kelompok kata atau kalimat. Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Ia merupakan ketentuan yang mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar berikut penggunaan tanda bacanya. 

Saat ini bahasa Indonesia menggunakan sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai sistem tatabahasa yang resmi. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan tidak hanya meliputi pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan kata, penulisan unsur serapan dan pemakaian tanda baca saja, melainkan juga meliputi pedoman umum pembentukan istilah dan pedoman pemenggalan kata. 
Sistem Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Sebelum diberlakukannya atau ditetapkannya sistem ejaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dalam sistem tatabahasa bahasa Indonesia, ada beberapa sistem ejaan yang berlaku dalam tatabahasa bahasa Indonesia.
Pada tahun 1901 ditetapkan sistem ejaan van Ophuijsen sebagai sistem ejaan yang berlaku resmi di Indonesia. Ejaan van Ophuijsen merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf  Latin. Perancang ejaan ini adalah seorang berkebangsaan Belana, vam Ophuijsen, dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. 

Sistem ejaan ini berbeda dengan sistem ejaan dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Berbeda dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang menggunakan huruf ( y ) dalam menuliskan kata-kata yang, payah, atau sayang, Ejaan van Ophuijsen masih menggunakan huruf ( j ) untuk menuliskan kata-kata tersebut. Sementara untuk menuliskan kata-kata seperti guru, itu, umur, ejaan van Ophuijsen tidak menggunakan huruf ( U ) melainkan menggunakan huruf oe. 

Setelah menggunakannya lebih dari empat puluh tahun lamanya, akhirnya ejaan van Ophuijsen telah disempunakan dan tidak diberlakukan lagi. Ejaan itu diganti dengan ejaan Soewandi. Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947. Ejaan ini disebut juga Ejaan Republik

Dalam sistem ejaan ini, bahasa Indonesia sudah menggunakan huruf ( U ) untuk menuliskan kata-kata semacam "guru, itu, umur" Tetapi masih seperti ejaan van Ophuijsen, ejaan ini juga masih menggunakan huruf ( J ) untuk menuliskan kata-kata seperti "pajah, sajang, jang" Selain itu, tidak seperti Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, dalam ejaan Soewandi awalan di- dan kata depan di keduanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang. 

Hal tersebut jelas berbeda dengan sistem ejaan dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kata depan di dan imbuhan di- ditulis dengan cara yang berbeda. Kata depan Contoh awalan "Di" "di pada di rumah, di kebun" ditulis secara terpisah. Sementara imbuhan di- pada dimakan, ditulis tetap ditulis secara serangkai. 

Selain ejaan van Ophuijsen dan ejaan Soewandi, bahasa Indonesia juga pernah memberlakukan ejaan Melindo. Ejaan ini dihasilkan pada akhir 1959 lewat sidang perutusan Indonesia dan Melayu. Tetapi karena perkembangan politik pada tahun-tahun berikutnya, ejaan ini urung diresmikan penggunaannya.

Editor : Jago Copy
Selengkapnya

Pola Kalimat Dasar Bahasa Indonesia unsur S P O K

0 komentar
Pola Kalimat Dasar Bahasa Indonesia unsur S P O K
Salam jagocopyer.. pada kesempatan ini saya seperti biasa akan mengupdate artikel yang tentunya berbeda pembahasannya, pada pembahasan kali ini saya mengambil judul Pola Kalimat Dasar Bahasa Indonesia unsur S P O Kunsur S P O K kerena kita Warga Negara Indonesia dalam Bahasa kita harus mengetahui Unsur dan Pola KALIMAT DASAR yang benar atau yang telah disempurnakan.
Kalimat dasar adalah kalimat yang memiliki struktur inti (subjek, predikat, objek dan pelengkap), yang belum mengalami perubaha atau campuran bahasa.
  1. Kalimat dasar berpola S P Kalimat dasar ini memiliki unsure subjek sdan predikat. Predikat unuk unsur kalimat ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan, contoh :
    Mereka / sedang berenang - S P(kata kerja)
    Ayahnya / seorang guru - S P(kata benda)
    Gambar itu / bagus - S P (kata sifat)
  2. Kalimat dasar berpola S P O (bisa kalimat aktif pasif) . 
    Kalimat dasar ini memiliki unsure subjek, predikat, objek, Misalnya :
    Mereka / sedang menulis / karya tulis ilmiah - S P O
  3. Kalimat dasar berpola S P Pel .  Kalimat dasar ini memiliki unsure subjek, predikat, pelengkap, misalnya :
    Anaknya / beternak / ayam - S P pel.
  4. Kalimat dasar berpola S P O Pel (bisa kalimat aktif pasif) Contohnya :dia / mengirimi / saya / surat - S P O Pel.
  5. Kalimat dasar berpola S P K Kalimat dasar ini memiliki unsure subjek, predikat, keterangan Contohnya :
    saya / berasal / dari Wonosobo - S P K
  6. Kalimat Dasar Berpola S P O K (Bisa Kalimat Aktif Pasif) / Punya Objek 2
    Kalimat ini memiliki unsure yang komplit tapi tanpa pelengkap. Unsur itu antara lain subjek, predikat, objek, keterangan.contohnya : 
    Memasukkan / pakaian / ke dalam lemari - S P O
  7. Kalimat Dasar Berpola S P Pel.  Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
    Ungu / bermain / musik / di atas panggung. - S P Pel. K
  8. Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
    Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan. S P O Pel. K

    Pola Kalimat Dasar Bahasa Indonesia
    Write : Jago Copy

Selengkapnya

Senin

Solusi Untuk Menyimak Efektif

0 komentar
Solusi Untuk Menyimak Efektif 
Salam Jagopyer, pada kesempatan kali ini, saya akan mengupdate MAKALAH SOLUSI MENYIMAK EFEKTIF bagi sahabat yag lagi mrncari artikel ini, sahabat lansung bisa copy muanya, tapi jangan lupa komentarnya ya..! Dari kendala yang dipaparkan diatas,maka ditemukan solusi-solusi untuk disamapikan kepada siswa supaya bisa menyimak lebih efektif. Adapun solusi-solusi tersebut antara lain :
Solusi Untuk Menyimak Efektif
  1. Mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara.Seorang pendengar yang baik selalu mencoba untuk memahami intisari dari suatu pesan.Jangan mendengar secara masuk telinga kanan keluar telinga kiri atau sebaliknya. Dari pembicaraan yang panjang lebar, tentu terdapat pokok pikirannya. Peganglah pokok pikiran itu, niscaya anda tahu maksud pembicara. Hal ini mungkin sulit dilakukan pertama kali. Karena itu, kita memang perlu latihan berkonsentrasi mendengarkan orang yang berbicara tanpa melakukan hal lain yang menganggu konsentrasi kita.
  2. Hindari gangguan dari lingkungan sekitar
    Ini dia hubungannya dengan yang tadi/pendengar yang baik selalu mencoba untuk memfokuskan diri pada pembicara. Mencoba mendengarkan pendapat teman ketika rapat sebagai contoh, tanpa terpengaruh oleh sinyal SMS, dering telepon, orang yang berlalu lalang, dan sebagainya. Oleh karena itu untuk pembicaraan yang serius, faktor lingkungan perlu diperhatikan.
  3. Mencoba untuk mengendalikan emosi
    Pendengar yang baik selalu mencoba untuk mengesampingkan emosi, sehingga ia dapat menerima pembicaraan dengan jernih. Pendengar yang baik juga selalu mencoba untuk memahami pembicara tanpa membuat penilaian pribadi atas pembicara. Memang kadang ada kata-kata yang keliru dari pembicara yang perlu diluruskan. Namun pelurusan pun harus dengan ilmu. Nasehat hendaknya disampaikan setelah pembicara rampung berkata-kata. Itupun disampaikan secara empat mata tidak di depan udiens lain.
  4. Membuat catatan jelas dan singkat
    Buatlah catatan kecil tanpa mengurangi konsentrasi kita pada saat mendengarkan. Harap diingat kita tidak dapat mengerjakan dua tugas sekaligus tanpa mengurangi keefektifan salah satu diantaranya. Jadi ini harus dilakukan dengan ekstra konsentrasi. Munkin anda bisa melatih menulis cepat, dan juga catatan itu tidak perlu dengan tulisan tangan yang indah, bisa berupa singkatan-singkatan, diagram-diagram yang anda saja dapat membacanya. Tidak masalah, yang penting anda dapat memahaminya. Boleh juga disalin kembali jadi catatan yang lebih baik
  5. Mencoba untuk bersifat empati
    Mencoba untuk menghargai posisi pembicara, sehingga kita terhindar dari mendengar apa yang hanya mau kita dengar daja. Tempatkan diri anda sebagai diri pembicara. Ketika anda berbicara, tentu anda juga ingin pendengar mendengarkan dengan seksama. Ini juga yang diinginkan pembicara yang sedang berbicara di depan anda.
  6. Memperhatikan komunikasi non verbal
    Tataplah lawan bicara, dan perhatikan bahasa tubuh mereka. Searingkali terjadi pemahaman akan suatu informasi lebih bisa kita pahami dengan memperhatikan raut muka dan gerakan tubuh lawan bicara. Dan sebagai pendengar, kita pun harus memperhatikan bahasa tubuh yang kita tampilkan, seperti posisi duduk, raut muka, anggukan kepala dan sebagainya.
  7. Mendengarkan dengan selektif
    Seringkali dalam suatu pembicaraan, pembicara memberikan informasi-informasi yang penting. Kadang informasi tersebut tersembunyi di dalam konteks pembicaraan. Kita diharapkan dapat memilah-milah informasi tersebut untuk mendapatkan yang kita butuhkan.
  8. Bertanya pada tempatnyaTunda dahulu pertanyaan dan gagasan yang ingin disampaikan sampai pembicara selesai. Ajukan pertanyaan untuk memperjelas maksud pembicara. Ini hampir sama dengan point yang pertama. Bisa jadi, masalah yang anda tidak paham akan diterangkan seketika itu juga tanpa anda menanyakannya. Karena itu, sabarlah. Boleh jadi, tanpa bertanya pun apa yang anda bingungkan akan diterangkan kembali.
  9. Buatlah kesimpulan atas apa yang menjadi inti pembicaraanDengan mencoba menangkap intisari pembicaraan diharapkan kita dapat memahami permasalahan dengan kata kita sendiri. Cobalah ramu kembali apa yang pembicara telah sampaikan dengan kata-kata anda sendiri. Ini akan melatih anda untuk mengambil kesimpulan dengan baik.
  10. Memberikan umpan balik
    Memberikan umpan balik kepada pembicara sehingga ia mengetahui sejauh mana kita sudah memahami pembicaraan. Inilah saatnya bertanya, berpendapat atau berkomentar. Setelah pembicara selesai mengutarakan pembicaraanya, barulah giliran kita. Jangan diam saja, sampaikan sepatah dua patah kalimat agar pembicara tahu sejauh mana kita paham.
Jago Copy
Selengkapnya

Kendala Hambatan dalam Menyimak Efektif

1 komentar

Kendala Hambatan dalam Menyimak Efektif Tarigan (dalam Sutari, dkk 1997:117-118) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabakan pembelajaran menyimak belum terlaksana dengan baik yaitu:
  1. Pelajaran menyimak relatif baru dinyatakan dalam kurikulum sekolah.
  2. Teori prinsif dan generalisasi mengenai menyimak belum banyak diungkapkan
  3. Pemahaman terhadap apa adan bagaimana menyimak itu masih minim
  4. Buku teks dan buku pegangan guru dalam pelajaran menyimak sangat langka
  5. Guru-guru bahasa Indonesia kurang pengalaman dalam melaksanakan pengajaran menyimak
  6. Bahan pengajaran menyimak sangat kurang
  7. Guru-guru Bahasa Indonesia belum terampil dalam menyusun bahan pengajaran menyimak
  8. Jumlah murid perkelas terlalu besar.
Hambatan-hambatan tersebut semakin bertambah dalam pembelajaran sastra karena adanya anggapan bahwa pembelajaran sastra kurang bermanfaat bagi kehidupan siswa. Metode yang digunakan dalam pembelajaran sastra kurang bervariasi sehingga menyebabakan kebosanan pada siswa.Sealin itu,guru cendrung kurang memotivasi siswa untuk belajar sastra dan media untuk pembelajaran sastra kurang mencukupi kebutuhan serta siswa belum mempunyai budaya untuk belajar sastra.

Faktor-faktor yang menyebabkan siswa kurang menyimak :
  1. Pemahaman siswa terhadap keterampilan menyimak masih kurang.Siswa kurang memahami teori dan manfaat menyimak.Untuk itu,guru harus memberikan pengetahuan kepada siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan menyimak dan perannya dalam kehidupan mereka.
2. Siswa merasa kurang mendapat manfaat dari belajar menyimak   kurang termotivasi untuk belajar.Hal ini terjadi karena siswa beranggapan bahwa mendengarkan cerita adalah hal biasa yang sering mereka lakukan ketika kecil.Melihat kegiatan ini guru harus memberitahukan manfaat menyimak.
  1. Media pembelajaran menyimak yang kurang mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif.Media seperti tape recorder jumlahnya terbatas sehingga penggunaannya harus bergantian dan menyesuaikan dengan kegiatan lain yang memanfaatkan media tersebut. Dalam proses belajar mengajar guru terkadang enggan menggunakan media yang ada karena pemanfaatannya memerlukan berbagai persiapan sehingga media tidak difungsikan secara efektif.
  1. Teknik pembelajaran menyimak yang kurang bervariasi. Dalam pembelajaran menyimak guru hanya membacakan teks dan siswa diminta menyimak. Guru seharusnya menerapakan teknik pembelajaran yang lebih bervariasi dan memanfaatkan media yang tersedia.
  1. Jumlah siswa telalu banyakDengan jumlah siswa 40 orang, guru dituntut untuk memilih teknik pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Selain itu, guru harus menguasai pengelolaan kelas secara baik.
  1. Ruang belajar belum menunjang pembelajaran menyimak.Ruang kelas berdekatan dengan jalan raya sehinnga siswa mudah terganggu suara dari luar.Keadaan ini sulit diatasi karena kondisi setiap kelas hampir sama dan belum memiliki laboratorium bahasa
    Jago Copy Blogspot
Selengkapnya

Apa Itu Menyimak Efektif

2 komentar
Apa Itu Menyimak Efektif
Menyimak merupakan salah satu proses komunikasi. Komunikasi disini adalah proses dalam mengirim dan menerima informasi.Menyimak merupakan proses menerima informasi atau menyimak menyimak barsifat reseptif. Untuk menyimak secara efektif bukanlah hal yang mudah. Seseorang harus dapat bersikap objektif dan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh lawan komunikasinya. Menyimak secara afektif membutuhkan konsentrasi, pengalaman dan keterampilan. Jadi, menyimak efektif adalah menyimak secara objektif dan memahami pesan yang disampaikan oleh lawan komunikasinya.
Jago Copy Blogspot
Selengkapnya

Sabtu

Makalah Menyimak Yang Efektif

0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Dengan demikian menyimak sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu kami akan mencoba menyusun konstribusi ilmu menyimak dalam peningkatan upaya menyimak efektif di sekolah dasar.
1.2.    Perumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini kami akan memfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini:
1.    Faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan menyimak efektif
2.    Tujuan apa yang akan di capai melalui keterampilan menyimak
3.    Manfaat apa yang akan diperoleh setelah belajar menyimak

1.3.    Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini kami akan membatasi masalah tentang ruang lingkup menyimak dalam peningkatan  uapaya menyimak efektif di sekolah dasar.

1.4.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan menyimak efektif.
2.    Untuk mengetahui ciri-ciri penyimak ideal




BAB II
PEMBAHASAN
2.1.    Pengertian Penyimak
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (panduan bahasa dan sastra Indonesia, Drs. Natasasmita Hanapi. 1995: 18) Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).
2.2.    Tujuan Menyimak
Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut:
a)    Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta
b)    Untuk menganalisis fakta
c)    mengevaluasi fakta
d)    Untuk mendapatkan inspirasi
e)    Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri

2.3.    Jenis-Jenis Menyimak
Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
1)    Sumber suara
2)    Cara penyimak bahan yang disimak
3)    Tujuan menyimak
4)    Taraf aktivitas penyimak.
Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1.    Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2.    Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1.    Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
Menyimak ekstensif meliputi
a)    Menyimak social
b)    Menyimak sekunder
c)    Menyimak estetik
d)    Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
Menyimak intensif meliputi:
a)    Menyimak kritis
b)    Introgatif
c)    Menyimak penyelidikan
d)    Menyimak kreatif
e)    Menyimak konsentratif
f)    Menyimak selektif
Tujuan menyimak berdasarkan Tidyman & butterfield membedakan menyimak menjadi:
1.    Menyimak sederhana
2.    Menyimak diskriminatif
3.    Menyimak santai
4.    Menyimak informative
5.    Menyimak literature
6.    Menyimak kritis
Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
1.    Kegiatan menyimak bertarap rendah
2.    Kegiatan menyimak bertaraf tinggi

2.4.    Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak efektif
1.    Unsur Pembicara
Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematis dan kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi.
2.    Unsur Materi
Unsur yang diberikan haruslah actual, bermanfaat, sistematis dan seimbang.
3.    Unsur Penyimak / Siswa
a.    Kondisi siswa dalam keadaan baik
b.    Siswa harus berkonsentrasi
c.    Adanya minat siswa dalam menyimak
d.    Penyimak harus berpengalaman luas
4.    Unsur Situasi
a.    Waktu penyimakan
b.    Saran unsur pendukung
c.    Suasana lingkungan

2.5.    Ciri-Ciri Penyimak Efektif yang Ideal
Menurut Djago Tarigan mengidentifikasi ciri-ciri menyimak ideal sebagai berikut:
1.    Berkonsentrasi
Artinya penyimak harus betul-betul memusatkan perhatian kepada materi yang disimak.
2.    Penyimak harus bermotivasi
Artinya mempunyai tujuan tertentu sehingga untuk menyimak kuat
3.    Penyimak harus menyimak secara menyeluruh.
Artinya penyimak harus menyimak materi secara utuh dan padu
4.    Penyimak harus menghargai pembicara
5.    Penyimak yang baik harus selektif, artinya harus memilih bagian-bagian yang inti
6.    Penyimak harus sungguh-sungguh
7.    Penyimak tidak mudah terganggu
8.    Penyimak harus cepat menyesuaikan diri
9.    Penyimak harus kenal arah pembicaraan
10.    Penyimak harus kontak dengan pembicara
11.    Kontak dengan pembicara
12.    Merangkum
13.    Menilai
14.    Merespon

2.6.    Kegiatan Menyimak
1)    Proses menyimak komprehensif
Adapun komponen yang termasuk dalam proses menyimak:
a)    Rangsang bunyi
Weafer 91972) memasukan kata-kata, bunyi isyarat dan bunyi-bunyi lainnya sebagai tipe-tipe simbol bunyi yang dapat diterima dan dapat dimaknai oleh penyimak.
b)    Penerimaan alat peraga
c)    Perhatian dan penyelesaian
d)    Pemberian makna.

2)    Fungsi comprehensive listening
Fungsinya berkonsentrasi pada pesan-pesan yang disampaikan selanjutnya kaitan antara satu pesan dengan lainnya agar sampai pemahaman yang dikehendaki.
3)    Faktor-faktor yang berkaitan dengan menyimak konprehensif
a)    Memori
Adapun memori dalam diri kita memiliki tiga fungsi penting
•    Menyusun arah tentang apa yang akan kita lakukan dalam aktivitas
•    Memberikan struktur baku terhadap pemahaman kita kepada suatu aktivitas apabila konsep-konsep kita tersebut dikemukakan oleh orang lain
•    Memberikan arah/pedoman untuk mengingat pengalaman/ pengetahuan dan informasi-informasi yang telah diketahui sebelumnya.
Beberapa teori yang memberikan penjelasan tentang penyebab mengapa informasi yang disimpan dalam memori hilang (lupa)
1.    Fuding teori (teori pemudaran): maksudnya informasi yang tidak sering digunakan akan memudar / perlahan-lahan hilang
2.    Distortion theory: informasi yang mirip dengan informasi yang lainnya tidak dapat dibedakan, yang telah disimpan di ingatan
3.    Superssion Theory: teori ini menyatakan pesan akan hilang akibat hambatan multivasional (melukai)
4.    Interference Theory: teori ini menyatakan informasi yang telah di dapat sebelumnya akan bercampur dengan informasi yang baru didapat
5.    Processing Break down theory: teori ini berpendapat bahwa tak satupun dari bagian-bagian informasi dapat diingat tanpa menggunakan sistem pengkodean makna ganda (sistem coding ambigu)
Menurut penelitian manusia akan lebih mengingat apabila informasi itu:
1)    Dianggap penting dan berharga atau berguna dalam kehidupan
2)    Dianggap lain dari pada informasi yang lain atau dianggap unik (tidak wajar)
3)    Terorganisir dan
4)    Berupa informasi visual
Menurut Montgo Mery ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat meningkatkan daya mengingat kita. Kita harus memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan daya ingatan, meningkatkan konsentrasi terhadap suatu pesan, dan peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.
b)    Konsentrasi
Salah satu alasan mengapa pendengar tak dapat berkonsentrasi pada sumber pembicaraan (penuturan) adalah kemungkinan karena sering berkomunikasi dalam rentang yang terlalu lama, sehingga keadaan seperti ini menuntutnya untuk membagi-bagi energi. Untuk memperhatikan antara berbagai ragam rangsang dan tidak merespon pada suatu rangsang saja.
Alasan yang kedua adalah karena pendengar salah mengarahkan energi untuk memperhatikan (attention energy). Menurut Erving Goffman, bentuk standar dan kesalahan penafsiran meliputi hal-hal berikut:
1.    Pencakupan / pemenuhan eksternal, dibandingkan dengan berkonsentrasi pada pesan penutur, pendengar cenderung akan mudah terkacaukan perhatiannya oleh stimulasi / rangsang dari luar
2.    Kesadaran diri
3.    Kesadaran berinteraksi
4.    Kurangnya rasa ingin tahu terhadap apa yang sedang dibicarakan
Ada tiga alasan lain yang menyadari alasan kurangnya konsentrasi di atas diantaranya; kurangnya motivasi diri dan kurangnya tanggung jawab

c)    Pembendaharaan kata
Faktor yang mempengaruhi kemampuan komprehensif pendengar adalah ukuran kosa kata. Diasumsikan bahwa ukuran kosa kata merupakan variabel penting dalam pemahaman pendengar.
Dalam peran kita sebagai komunikator, kita memiliki empat jenis kosa kata fungsional yang sangat bervariasi ukurannya, jenis kosa kata itu dibedakan berdasarkan usia, saat seseorang melakukan komunikasi. Hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
1)    Sampai kira-kira seseorang mencapai usia sebelas tahun kosa kata fungsional terbesar yang dimiliki adalah kosa kata simakan mendengar (listening vocabulary) artinya pengayaan kosa katanya pada fase ini dapat dan hasil simakan dari kehidupan sehari-hari
2)    Setelah lewat usia dua belas, kosa kata simakan yang seseorang miliki, umumnya dipengaruhi oleh kosa kata atau hasil membaca (reading vocabulary).
Orang dewasa dikatakan memiliki kosa kata minimum apabila ia hanya memilih rata-rata kosa kata sebesar 20.00 kata.
Untuk meningkatkan kosa kata umum maupun kosa kata mendengar menurut langkah-langkah Pauk dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Langkah pertama adalah menumbuhkan minat kata-kata. Ada dua kemampuan dasar yang dapat membantu kita untuk mempelajari kata-kata baru berdasarkan maknanya adalah kemampuan menganalisa struktur dan kemampuan menganalisa konteks kata keterampilan pertama tadi yaitu analisis struktur.
2.    Langkah yang kedua adalah mempelajari makna dari kata-kata yang tidak lazim dari konteks-konteksnya.
Ada 2 jenis petunjuk kontekstual yang utama dan telah umum dikenal yakni petunjuk sematik (makna kata) dan sintaksis (struktur kalimat), yang termasuk ke dalam petunjuk sematik adalah petunjuk sinonim, penjelas, deskripsi, contoh, kesimpulan, penjelas pengalaman, situasi, Petunjuk kontekstual kedua adalah petunjuk sintaksis berupa pola-pola penyusun kalimat yang menjadi penyusun suatu kalimat.

d)    Faktor-faktor tambahan
1)    Faktor kurang seringnya diadakan penelitian-penelitian yang terkontrol secara ilmiah
2)    Tak banyak mengenal paliditas dan realibitas tes mendengar yang diterapkan dalam penelitian
3)    Karena sebagian besar peneliti belum terkoordinir dengan baik.
Ada beberapa variabel yang mempengaruhi keefektifan menyimak konprehensif adalah usia, motivasi, intelgensia, tingkat pencapaian, kemampuan berbicara, pemahaman membaca, kemampuan belajar, kemampuan berbahasa dan cultural.
BAB III
PENUTUP
Hakekat dari ilmu menyimak adalah suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan merealisasi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. Jadi menyimak sangatlah penting bagi para pelajar terutama siswa, menyimak bertujuan untuk menangkap, memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Keterampilan menyimak sangatlah penting, baik di luar maupun di sekolah, namun demikian di Indonesia kelihatanya belum mendapat tempat yang menggembirakan. Hal ini terbukti belum dimasukannya menyimak secara eksplisit pada GBPP bidang studi.
Kegiatan menyimak ternyata besar sekali peranannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga, di masyarakat di pabrik, di kantor, di perusahaan, di sekolah dan sebagainya. Kita tahu bahwa kegiatan menyimak sangat banyak dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, namun kenyataannya masih jarang sekali orang-orang yang berminat mengadakan penelitian di bidang menyimak (Efektif).
DAFTAR PUSTAKA
Supriatna Agus, M.Pd., Rukianti K. Enung Hj. Dra. M.Pd.; Modul pembelajaran Program Diploma Dua Guru Kelas MI.
Natasamita hanapi, Drs. Panduan Bahasan Dan Sastra Indonesia
Selengkapnya

Selasa

Aceh, Soekarno, dan Megawati

0 komentar

''Khusus kepada saudara-saudaraku di Aceh, bersabarlah. Bila kelak Cut Nya' memimpin negeri ini, tak akan saya biarkan setetes pun darah rakyat menyentuh Tanah Rencong yang begitu besar jasanya dalam menjadikan Indonesia merdeka. Kepada kalian saya akan berikan cinta saya, saya akan berikan hasil Arun-mu, agar rakyat dapat menikmati betapa indahnya Serambi Makkah bila dibangun dengan cinta dan tanggungjawab antarsesama warga bangsa, bangsa Indonesia!''
Pidato itu disampaikan Megawati Soekarnoputri –saat menjabat wakil presiden-- dengan menangis terisak-isak pada tanggal 29 Juli 1999, disaksikan jutaan rakyat
Indonesia karena disiarkan langsung oleh televisi nasional. Bagi rakyat Aceh, janji yang diucapkan oleh Megawati sambil menangis terisak-isak bukanlah hal
yang baru. Karena pada saat awal kemerdekaan, tepatnya 17 Juni 1948, di Banda Aceh, ayah Megawati, Presiden Soekarno, juga menangis terisak-isak di depan Tgk
Indonesia karena disiarkan langsung oleh televisi nasional. Bagi rakyat Aceh, janji yang diucapkan oleh Megawati sambil menangis terisak-isak bukanlah halyang baru. Karena pada saat awal kemerdekaan, tepatnya 17 Juni 1948, di Banda Aceh, ayah Megawati, Presiden Soekarno, juga menangis terisak-isak di depan Tgk
Muhammad Daud Beureueh. Disaksikan sejumlah tokoh dan pedagang Aceh, Soekarno berkata kepada Daud Beureueh,''Kanda tidak percaya padaku? Buat apa aku menjadi Presiden kalau aku tidak dipercaya?''
Saat itu, Daud Beureueh selaku Gubernur Militer Aceh, menyodorkan kepada Soekarno konsep diberlakukannya syariat Islam di Aceh, jika kelak penjajah Belanda
terusir dari bumi Indonesia. Soekarno setuju, tetapi menolak membubuhkan tandatangannya. Setelah beberapa kali didesak oleh Abu Beureueh (sapaan Tgk Muh Daud Beureueh), akhirnya keluarlah tangisan yang terkenal itu dari Sang Presiden, sehingga Abu Beureueh tidak sampai hati untuk mendesak Soekarno membubuhkan tandantangannya pada konsep yang telah disodorkan.
Tetapi, seperti tercatat dalam sejarah, setelah Belanda terusir, Soekarno bukan menepati janjinya untuk memberlakukan syariat Islam di Aceh. Malah, pada tahun 1950, melalui Perppu No 5/1950, Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Hal ini tentu menyakitkan hati rakyat Aceh yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan RI dengan derai air mata, darah, dan nyawa. Ibarat air susu dibalas dengan air tuba!
Tidak perlu heran jika akhirnya rakyat Aceh melawan Pemerintahan Soekarno dengan bergabung dalam gerakan DI/TII. Dan sejarah kembali membuktikan, perlawanan DI/TII di Aceh tidak dapat ditaklukkan dengan senjata. Padahal DI/TII di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan telah dapat dikalahkan. Akhirnya, melalui Misi Hardi (Mr Hardi, Wakil Perdana Menteri I) pada 25 Mei 1959, dilakukan perundingan. Hasilnya, Aceh kembali menjadi provinsi tersendiri dan diberikan keistimewaan sehingga disebut Daerah Istimewa Aceh. Namun dalam praktiknya, keistimewaan itu sama sekali tidak. Kembali hati rakyat Aceh dilukai.
Apalagi, sejak ditemukannya ladang gas Arun pada tahun 1974, sama sekali rakyat Aceh tidak merasakan manfaatnya. Megawati, dalam pidatonya tadi, berjanji akan mengembalikan hasil gas Arun kepada rakyat Aceh. Kenyataannya? Jauh panggang dari api. Setelah Megawati menjadi Presiden RI, jangankan dikembalikan hasilnya, malah gas Arun seluruhnya diekspor keluar negeri demi mendatangkan devisa negara. Akibatnya, pabrik pupuk yang ada di Aceh yakni ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) dan Pupuk Iskandar Muda (PIM) terpaksa berhenti beroperasi. Jika akhirnya gas Arun seluruhnya dialokasikan keluar negeri, untuk apa pemerintah membangun pabrik pupuk baru di Aceh yang bernama PIM 2?
Bukankah PIM 2 menjadi proyek mubazir yang akhirnya memberatkan keuangan negara karena pabrik dibangun dengan pinjaman luar negeri? Masalah gas Arun belum seberapa. Yang lebih menyakitkan lagi, janji yang diucapkan Megawati sebelum dirinya menjadi Presiden RI. Janji ''_bila kelak Cut Nya' memimpin negeri ini, tak akan mengalir setetes pun darah rakyat Aceh'' embali dilanggarnya sendiri dengan menggelar operasi militer untuk menggantikan Daerah Operasi Militer (DOM). Di masa darurat militer dan darurat sipil itu, tidak diketahui dengan pasti berapa banyak darah rakyat sipil Aceh tidak berdosa yang tumpah di bumi Serambi Makkah; berapa nyawa yang hilang percuma; dan berapa banyak harta benda yang terkuras akibat konflik senjata yang berkepanjangan antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pemerintahan Megawati dapat mengatakan ini adalah ekses atau risiko dari darurat militer dan darurat sipil. Tapi dia lupa dengan janjinya sendiri, apalagi dia menyebut dirinya Cut Nya' ketika mengucapkan janji itu. Seolah menggambarkan dia seperti pahlawan yang sangat dihormati oleh rakyat Aceh, Cut Nya' Dhien. Ternyata sejarah berbicara lain. Tidak mengherankan suara PDIP pada Pemilu 2004 lalu di Aceh menurun drastis. Rakyat Aceh juga lebih memilih Amien Rais dan Susilo Bambang Yudhoyono dibandingkan Megawati pada pemilu presiden (pilpres) lalu.
Kerancuan logika PDIP Kini, setelah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla memerintah dan memutuskan membuka kembali perundingan dengan GAM di Helsinki --agar konflik bersenjata yang sudah hampir berusia 30 tahun bisa dihentikan - muncul reaksi penolakan dari PDIP lewat berbagai pernyataan di media massa, baik resmi maupun tidak resmi.
Berbagai argumen dikemukakan, di antaranya, mengapa perundingan dilakukan di luar negeri sehingga terjadi internasionalisasi masalah Aceh, padahal persoalan Aceh adalah urusan dalam negeri; GAM adalah pemberontak kenapa tidak ditumpas habis saja; MoU di Helsinki adalah perjanjian kesepakatan antara pemerintah RI dengan petinggi GAM yang berkewarganegaraan asing dan dilakukan di luar negeri, sehingga merupakan perjanjian internasional yang butuh persetujuan DPR; Isi MOU di Helsinki yang mengakomodir keinginan GAM untuk membentuk parpol lokal di Aceh akan memicu daerah lain menuntut hal yang sama dan akan menimbulkan gerakan separatis yang berujung disintegrasi Indonesia.
Dari argumen di atas, terlihat ketidakkosistenan dan kerancuan logika yang dikembangkan PDIP dalam melihat perundingan Helsinki. Dikatakan perlu persetujuan lembaga DPR karena MoU dengan GAM adalah perjanjian internasional, padahal sejak awal PDIP menolak internasionalisasi masalah Aceh. Bukankah dengan demikian yang menginternasionalisasi Aceh adalah PDIP sendiri? Di mana pun di dunia ini, setiap perundingan selalu di luar negeri. Karena yang berunding adalah pemberontak dan pemerintahan yang sah. Bisa kita lihat kasus Moro di Filipina yang berunding di negara lain dan selalu ada mediator. Bahkan Indonesia pernah menjadi mediator perundingan tersebut.

Dengan kenyataan lima juru runding GAM yang berada di Aceh ditangkap aparat sewaktu kesepakatan CoHA dulu gagal, tentu petinggi GAM akan berpikir seribu kali bila perundingan dilakukan di Indonesia, apalagi tanpa mediator yang netral. Sejak GAM diproklamirkan pada tahun 1976, Pemerintah RI selalu berusaha menumpas habis gerakan tersebut lewat berbagai operasi militer. Kenyataannya, setelah hampir 30 tahun GAM masih eksis, bahkan makin solid.
Panglima perang GAM boleh terbunuh tetapi dengan segera timbul penggantinya. Contohnya Panglima GAM, Tgk Abdullah Syafii, digantikan oleh Muzakir Manaf. Upaya pemerintah untuk menyeret Hasan Tiro dan kawan-kawan sebagai petinggi GAM di Swedia ke meja hijau, sampai saat ini tak membuahkan hasil. Memang, pilihan berunding dengan GAM harus diambil oleh Pemerintah RI untuk menyelesaikan masalah Aceh secara permanen. Apalagi musibah tsunami yang merenggut ratusan ribu jiwa rakyat Aceh belum hilang dari ingatan kita. Itu menjadi hikmah bersama bahwa kekuasaan manusia tidak berarti apa-apa dibandingkan kekuasaan Allah SWT.
Soekarno melakukan hal sama Soekarno pun, karena tidak berhasil memadamkan gerakan DI/TII di Aceh, mengutus Mr Hardi untuk berunding, dan akhirnya menerima sebagian tuntutan Abu Beureueh waktu itu. Ini juga menjawab pertanyaan petinggi PDIP mengapa yang diutus ke Helsinki pejabat setingkat menteri, toh dulu pun Soekarno melakukan hal yang sama. Menyangkut parpol Lokal, inipun bukan hal yang aneh. Mengingat saat Soekarno berkuasa, banyak parpol lokal yang mengikuti Pemilu 1955. Parpol lokal tersebut tidak ada yang menyebabkan timbulnya gerakan separatis.
Sejarah memperlihatkan munculnya gerakan separatis di Indonesia bukan disebabkan oleh parpol lokal, melainkan karena ketidakadilan antara pusat dan daerah. Bahkan, melihat ketidakpekaan anggota DPR saat ini --yang menuntut kenaikan gaji dan melancong ke luar negeri saat rakyat menderita-- bukan tidak mungkin akan membuat rakyat muak pada partai yang ada. Sehingga mereka akan menuntut diperkenankannya partai lokal yang mewakili aspirasi rakyat di daerah untuk mengikuti pemilu. Penolakan parpol nasional mengakomodir parpol lokal, sebenarnya bukan terletak ada masalah disintegrasi. Tapi lebih dikarenakan parpol nasional seperti PDIP takut kehilangan popularitasnya di mata rakyat.
PascaperundinganSenin, 15 Agustus 2005, adalah hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya rakyat Aceh, yang telah lama mendambakan kedamaian di Serambi Makkah, Karena MoU Aceh Damai akhirnya ditandatangani oleh Pemerintah RI dengan GAM di Helsinki, Finlandia. Insya Allah, dengan adanya MoU Aceh Damai, usai sudah konflik bersenjata di Aceh yang telah berusia lebih seperempat abad. Kemudian, segala aspirasi rakyat Aceh dapat disampaikan dalam suasana terbuka, demokratis, dan damai.Meskipun demikian, kita tidak boleh terlalu optimistis. Karena jalan panjang nan terjal telah menghadang di depan mata. Pelaksanaan MoU Aceh Damai di lapangan, adalah titik krusial yang harus menjadi perhatian serius kedua belah pihak, baik GAM maupun pemerintah. Walau pun minoritas, GAM masih mempunyai faksi garis keras yang menentang MoU tersebut. Termasuk dalam kelompok ini kaum ultra nasionalis, pedagang senjata yang oportunistik, maupun para kriminal yang selama ini mengambil kesempatan dengan mengatasnamakan tentara GAM atau TNI.
Mengandalkan Aceh Monitoring Mission (AMM) sebagai pihak pemantau pelaksanaan kesepakatan damai saja tidak lah cukup. Karena area konflik di Aceh yang cukup luas dan setiap saat memungkinkan setiap orang ataupun kelompok mengambil kesempatan untuk kepentingan kelompoknya. Apalagi anggota AMM walaupun netral karena berasal dari negara asing, tidak menguasai medan konflik yang sesungguhnya. Karena itu, butuh dukungan sepenuh hati dari kedua belah pihak yang bertikai selama ini untuk turut membantu tugas AMM dan kerelaan hati untuk menerima hukuman, apabila ada anggota ataupun oknum GAM maupun TNI yang melakukan kesalahan.
Memang agak sulit mengharapkan rasa saling percaya dapat tumbuh dalam sekejap, mengingat sebelumnya kedua belah pihak telah bertikai cukup lama. Tapi kalau diniatkan sungguh-sungguh, insya Allah akan berhasil. Sebaliknya, bila pelaksanaan kesepakatan damai hanya setengah hati, bukan saja akan membuat kecewa rakyat Aceh, tetapi akan memunculkan ''GAM-GAM baru'' yang lebih radikal dibanding sebelumnya. Untuk itu kita harus belajar dari sejarah. Apa yang sudah kita janjikan harus kita tepati. Sebab MoU Aceh Damai adalah kado Ulang Tahun RI ke-60 yang tidak ternilai harganya.
JCB_Net 
Selengkapnya

Lintas Islam

Selengkapnya »

Informasi

Selengkapnya »

Lintas Budaya

Selengkapnya »

Lintas Makalah

Selengkapnya »
 

Followers

Copyright © JAGO COPY BLOGSPOT | All Right Reserved.
Template By Ervanda.info
Bloggers - Meet Millions of BloggersHosting Gratis